Sejarah

Pertanyaan

jelaskan secara singkat biografi tokoh Ara Suhara meliputi ( nama lengkap, tempat tgl lahir, riwayat pendidikan, apa yang dia lakukan untuk mempertahankan indonesia, dan wafat)

1 Jawaban

  • Ara Suhara
    Tanggal lahir: 1913 (79)
    Tempat lahir: Majalaya, Bandung, West Java, Indonesia
    Meninggal: 1992 (79)
    Majalaya, Bandung, West Java, Indonesia
    Keluarga Dekat:
    Anak laki-laki dari Rd.H. Mochamad Habib dan Nyi Mas Emot
    Suami dari Atikah
    Ayah dari <private>; <private>; <private> dan <private>
    Saudara laki-laki dari Rd. Ojo Sunarja Pranata; Rd. Hj. Siti Suwati dan Uwang Suwarni
    GUBUK kecil di tengah hutan itu dibuat dari dedaunan hingga setinggi orang dewasa. Tapi di dalamnya ada makanan yang jarang ditemui Sersan Ara Suhara di rumah orang biasa saat itu: dodol garut, jeruk garut, dan susu.

    Ketika melihat ada seorang kakek bersarung dan berbaju di samping makanan mewah itu, Ara, prajurit Batalion Infanteri 328/Kujang Siliwangi, langsung berpikir kakek itu pasti orang penting. Mungkinkah ia Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang ia buru selama ini? Ara pun bertanya, memastikan: “Pak Karto?”

    Si kakek merangkul Ara. “Iya, Nak,” katanya mengakui.

    Jawaban Kartosoewirjo itu tak hanya mengakhiri perburuan Ara selama berhari-hari untuk menemukan Kartosoewirjo sekaligus menunjukkan keberhasilan strategi perang wilayah tentara Indonesia.

    Dengan taktik itu, tentara Indonesia menyekat-nyekat daerah perlawanan, sehingga Kartosoewirjo sulit bergerak. Operasi ini bernama Brata Yuda, tapi lebih dikenal sebagai Operasi Pagar Betis. Digelar mulai April 1962, operasi ditargetkan kelar setengah tahun, tapi baru tiga bulan dilangsungkan Ara sudah menangkap Kartosoewirjo.

    Salah satu kunci sukses operasi ini adalah keterlibatan rakyat sipil sehingga kepungan terhadap DI/TII sangat rapat dan bisa dikatakan tak tertembus. Keterlibatan rakyat ini yang membuat operasi lebih dikenal sebagai Operasi Pagar Betis.

    Dalam operasi, militer meminta para pemuda dan pamong desa di sekitar wilayah operasi bersiaga. “Mereka yang berangkat diinstruksikan untuk membawa bekal logistik sendiri secukupnya,” kata Abdul Mahmud Latif, warga Desa Cilampung Hilir, Leuwisari, Tasikmalaya, yang saat operasi digelar berusia 25 tahun.

    Sebagai pemuda, ia ikut menjadi pagar betis. “Tiga hari saya di sana,” katanya. Di lokasi yang ditentukan, Mahmud, para tetangganya, dan tentara membuat sejumlah tenda mengelilingi hutan di sekitar Galunggung.

    Toto Toriah, nenek yang saat masih muda menemani suaminya yang menjadi pengikut Kartosoewirjo, Adang, mengungkapkan masalah pagar betis ini bagi pasukan Kartosoewirjo. “Sulit sekali makanan masuk,” kata Toto, yang sekarang tinggal di Desa Linggarsari, Sariwangi, Tasikmalaya. Sebelumnya, warga yang bersimpati kepada mereka terkadang mengirim beras, jagung, gula, atau garam.

    Di luar makanan itu, pasukan Kartosoewirjo juga belajar hidup dengan memanfaatkan apa saja yang ada di hutan. Pasukan Kartosoewirjo mengandalkan makanan bongborosan, seperti pisang, honje, kapulaga, jahe, atau lengkuas sebagai bahan makanan setiap hari. “Singkong rebus tambah gula merah ataupun garam mungkin menjadi menu favoritnya,” kata suami Toto, Adang.

    Mereka juga berburu burung, kancil, atau ikan untuk lauk. Sayuran kegemaran lain adalah daun reundeu. “Daun ini bisa langsung dimakan bila keadaan perut prajurit sudah tidak kuat menahan lapar,” kata Adang.

    Para tentara DI/TII juga gemar merokok. Favorit mereka adalah Escort, merek rokok nonkretek populer di Indonesia sejak zaman Belanda hingga 1970-an. Jika sudah kehabisan rokok, tutur Dudung, rekan Adah Djaelani, ia tidak segan-segan meminta kepada Raden Oni Syahroni, kepala Resimen I DI/TII yang terkenal. “Beliau terkadang hanya memberi kami Rp 5,” kata Adah. “Itu sudah cukup bagi kami untuk membeli rokok.”

    Tapi Operasi Pagar Betis menghentikan hubungan mereka dengan dunia luar. Pemerintah Jakarta pun menawarkan amnesti bagi pasukan DI/TII yang menyerah pada 1961. Dengan posisi tertekan kuat sekaligus diberi jalan keluar yang bagus, yakni amnesti, kekuatan DI/TII mulai berkurang.

    Para pejabat kelompok pemberontak ini mulai satu per satu menyerahkan diri. Yang terakhir, Mei 1962, Adah Djaelani Tirtapradja, seorang komandan wilayah, juga menyerahkan diri di pos pagar betis Gunung Cibitung. Praktis sejak saat itu Kartosoewirjo tinggal ditemani segelintir pengikut setianya.

    Operasi ini juga memaksa istri dan anak kelompok Kartosoewirjo terpisah dari induknya. Salah satunya Sardjono, anak Kartosoewirjo yang saat itu baru lima tahun dan diasuh Musti’ah.

    Sardjono menuturkan ia besert

Pertanyaan Lainnya